BERBAHAGIA – BAGIAN 1

RENUNGAN HARIAN 2052 Kali Dibaca

Renungan hari ini 14 Januari 2014 adalah “Miskin Dihadapan Allah”. Sebelum membaca renungan ini mari kita berdoa.

Doa: Tuhan Yesus, saat kami membaca renungan ini buatlah kami mengerti akan kebenaranMu sesuai dengan kehendakMu, supaya kami boleh hidup sesuai dengan kebenaranMu dalam sepanjang langkah hidup kami. Ajar kami Tuhan untuk memiliki perasaan berbahagia seperti yang Engkau mau, dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, haleluya. Amin.

Bila dilihat dari sudut pandang dan pola pikir dunia maka orang akan selalu beranggapan bahwa, orang yang paling berbahagia adalah orang yang memiliki segala sesuatu dalam hal ini berbagai fasilitas hidup yang bisa dinikmati, termasuk didalamnya adalah gaya hidup seperti makan minum, pakaian, serta harta kemewahan, yang bisa memberi kinikmatan serta kebahagiaan hidup. Kalau itu adalah sudut pandang dunia, lalu bagaimana dengan sudut pandang kita sebagai orang percaya yang sesuai dengan apa yang Alkitab katakan ?.

Matius 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Kata berbahagia itu bisa diartikan “beruntunglah, diberkatilah”. Tetapi saat ini mari kita lihat apa maksud Tuhan Yesus yang berkata “berbahagialah”. Sebab bila sebagai orang percaya kita berbicara mengenai kebahagiaan, keberuntungan, atau berkat, maka tergantung dari sudut pandang, atau cara berpikir masing-masing orang dan hal ini juga menyangkut dengan rasa setiap orang, dan biasanya cara pandang atau rasa setiap orang itu berbeda.

Contoh sederhananya, bila seseorang yang terbiasa makan harus pakai lauknya ikan, maka bila makanan yang disajikan lauknya hanya tempe goreng maka biasanya ia akan merasa kurang, dalam hal ini kurang enak atau kurang beruntung, sebaliknya bila ada orang yang terbiasa makan hanya memakai tempe goreng lalu saat makanan disajikan ada tempe goreng yang disajikan maka orang tersebut akan merasa sangat beruntung atau merasa ia mendapat berkat, padahal tujuan dari makan itu hanya satu yaitu supaya perut yang lapar itu bisa kenyang.

Biasanya orientasi berpikir setiap orang itu berbeda-beda, oleh sebab itu dalam hal makananpun orang bisa menganggapnya sebagai kenikmatan hidup. Lalu bagaimana dengan cara pandang atau orientasi berpikir kita sebagai orang percaya, atau sebagai orang kristen atau sebagai anak-anak Tuhan ?. Hal ini saya kemukakan karena ada begitu banyak orang percaya, orang kristen atau anak-anak Tuhan yang memiliki orientasi berpikir yang berbeda-beda, apalagi bila sudah dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut materi.

Bila sudah menyangkut hal materi, maka ada orang-orang kristen atau anak-anak Tuhan yang masih memiliki pola pikir atau keinginan yang begitu materialistis, sehingga mereka akan merasa diberkati atau beruntung bila segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan materi bisa tercukupi, bagitu juga dengan orang yang selalu ingin memiliki segala kebutuhan jasmaninya tercukupi, akan merasa diberkati apabila semua kebutuhan hidup menyangkut kebutuhan jasmaninya tercukupi, karena bila kurang maka ia akan merasa tidak beruntung atau tidak diberkati. Dari kebenaran diatas kita bisa melihat bahwa ada begitu banyak orang percaya atau orang kristen yang belum memahami secara benar apa itu berbahagia yang merupakan berkat Tuhan.

Kalau berbicara mengenai berkat maka kita harus mengerti bahwa ada berkat jasmani dan ada berkat rohani. Kalau cara pandang atau rasa sebagian orang kristen tentang berbahagia hanya tertuju kepada makan minum, pakai, dan hal materi, yang semuanya itu hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, maka sesungguhnya mereka lupa kalau itu semua bukan kebutuhan utama yang harus dikejar, karena yang sebenarnya kebutuhan utama setiap orang percaya atau setiap anak-anak Tuhan adalah kebutuhan akan berkat rohani.

Orang yang menaruh perasaan berbahagia hanya apabila semua kebutuhan jamaninya tercukupi, maka ia tidak akan mampu melihat atau memandang berkat kekal atau berkat rohani yang dapat memberikan kebahagiaan kekal yang telah disediakan Tuhan bagi setiap orang percaya, orang kristen, atau anak-anak Tuhan. Jadi dalam hal ini cara berpikir orang percaya, atau cara pandang orang percaya tentang berbahagia itu harus mengalami terobosan atau mengalami pembaharuan, tentang apa itu kebahagian. Dan biasanya orang-orang seperti ini mengalami pembaharuan atau terobosan dalam pola pikir hanya menyangkut kepada segala hal yang orientasinya duniawi dan samasekali belum mengalami terobosan atau pembaharuan pola pikir secara rohani.

Seperti contoh diatas kita sudah mengerti bahwa cara pandang atau apa yang membuat seseorang merasa berbahagia atau beruntung itu berbeda-beda, jadi dalam hal ini konsep tentang berkat juga berbeda-beda. Dalam kebenaran diatas ketika Tuhan Yesus berkata “berbahagialah” artinya ada sebuah sinyal untuk setiap orang harus berubah, berbelok, atau berbalik, dari cara berpikir yang salah selama ini, dan mulai memiliki fokus atau cara berpikir yang berbeda, harus ada terobosan atau pembaharuan pikiran, artinya tidak lagi memiliki fokus kepada hal-hal yang hanya menyangkut segala kebutuhan jasmani, atau tidak lagi memiliki orintasi berpikir yang duniawi, tetapi fokusnya harus mulai tertuju hanya kepada Allah dan kerajaanNya.

Disnilah letak pembaharuan pikiran itu, atau apa yang disebut sebagai mengalami terobosan berpikir yang hanya tertuju kepada berkat rohani yang berdampak kekal. Perkataan Tuhan Yesus tentang berbahagia ini biasanya akan lebih menyentuh kepada orang-orang yang merasa terbuang, orang-orang yang berdosa, orang-orang yang dianggap sebagai rakyat jelata, atau orang-orang yang samasekali oleh dunia tidak pernah dipandang.

Jadi sebagai orang percaya atau orang kristen kita harus memahami, ketika Tuhan Yesus berkata “berbahagialah” itu artinya kita harus melihat kepada kebahagiaan yang Tuhan kehendaki, dan bukan kepada kebahagiaan yang kita kehendaki. Pola pikir seperti inilah yang membuat kita menjadi berbeda dengan dunia, karena orintasi berpikir kita sudah tidak lagi tertuju kepada dunia saat ini, tetapi kita sudah mulai mengarahkan fokus cara berpikir kita kepada sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kehidupan yang ada dibalik kematian, atau sudah sering saya sebutkan sebagai kehidupan yang sebenarnya.

Samapai disini kita mulai memahami dasar pemikiran yang benar tentang ucapan berbahagia yang Tuhan Yesus katakan, dimana kita harus mengalami pembaharuan pikiran atau mengalami terobosan berpikir yang benar.

Ingat pesan ini:

  1. Kita harus mulai untuk memiliki terobosan cara berpikir supaya kita bisa mengalami pembaharuan pikiran.
  2. Berpikirlah bahwa berkat jasmani itu bukan tujuan utama, tetapi yang terpenting adalah berjuang untuk mendapatkan berkat rohani yang Tuhan sediakan bagi setiap orang percaya didalam kekekalan.

Ini adalah bagian pertama dari  renungan tentang kata “berbahagia” kita lanjutkan besok pada bagian yang ke dua.

Bila engkau diberkati dengan renungan ini, maka berikanlah link renungan ini kepada semua orang yang engkau kasihi. renunganhariini.com

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

tags: , , , ,

Related For BERBAHAGIA – BAGIAN 1