BERBAHAGIA – BAGIAN 2

RENUNGAN HARIAN 1861 Kali Dibaca

Renungan hari ini 15 Januari 2014 adalah “Berbahagia”, dan ini merupakan bagian yang ke 2 dari seri Berbahagia. Sebelum membaca renungan ini mari kita berdoa.

Doa: Tuhan Yesus, kami mau terus belajar untuk mengerti akan kebenaran FirmanMu tentang ucapan berbahagia, oleh sebab itu penuhilah kami dengan hikmatMu ya Tuhan supaya kami boleh mengerti akan FirmanMu dan hidup sesuai FirmanMu. Didalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, haleluya. Amin.

Matius 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Pada bagian yang pertama kita sudah berbicara tentang sudut pandang setiap orang tentang berbahagia itu berbeda-beda, dan sebagai anak-anak Tuhan kita harus memiliki terobosan berpikir yang berbeda dengan sudut pandang dunia tentang berbahagia, dan pada bagian yang ke dua ini kita akan terus membahas tentang ucapan berbahagia yang diucapkan oleh Tuhan Yesus.

Sebelumnya saya juga sudah menyinggung bahwa orang-orang yang bisa mendengar dan menerima ajaran Tuhan Yesus adalah orang-orang yang terbuang, atau rakyat jelata, orang-orang yang tidak dipandang, orang-orang yang diasingkan, atau bisa juga orang-orang seperti pelacur yang dianggap berdosa dan disingkirkan oleh orang-orang yang beragama.

Pertanyaannya kenapa orang-orang seperti inilah yang bisa mendengar serta menerima ajaran Tuhan Yesus ?. Karena orang-orang seperti ini memiliki pandangan hidup yang masih mudah untuk dibelokan, atau mereka masih memiliki cara berpikir yang mudah untuk diubah, jadi mereka bisa menerima ajaran tersebut lalu berbalik pada Tuhan, dan inilah yang terpenting.

Jadi bila Tuhan Yesus berkata “berbahagialah kamu” artinya Tuhan mau arahkan setiap kita supaya memiliki cara berpikir yang berbeda dengan anak-anak dunia, dalam hal ini setiap anak-anak Tuhan dituntut untuk harus mengambil keputusan yaitu harus berani berubah, sebab kalau kita masih memiliki cara berpikir dunia tentang sebuah kebahagiaan maka kita tidak dapat memiliki kebahagiaan seperti yang Tuhan inginkan untuk kita sebagai orang percaya, atau sebagai anak-anak Tuhan.

Berubah yang Tuhan inginkan adalah sebuah perubahan seperti yang Firman Tuhan katakan dalam Matius 18:3 lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Jadi kunci kebahagiaan itu bukan tergantung pada apa yang bisa kita nikmati saat ini, tetapi kita akan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya adalah bila kita bisa diterima dalam Kerajaan Bapa di Sorga. kata bertobat dalam ayat ini artinya berbalik, atau perubahan pikiran, tentu berbalik dari pikiran duniawi dan mengenakan pikiran Sorgawi atau pikiran Kristus. Atau dengan kata lain kita harus berbalik, kita harus mengalami terobosan perubahan pikiran dan menjadi seperti anak-anak yang selalu tunduk kepada perintah orang tua, dalam hal ini sebagai orang percaya tentu kita harus tunduk kepada perintah Tuhan dan hidup dalam kedaulatan Tuhan.

Pertanyaannya kenapa kita harus menjadi seperti anak-anak ?. Karena anak-anak yang masih berumur tujuh sampai empat belas tahun itu biasanya sangat efektif untuk di didik. Menjadi seperti anak-anak tentu dalam hal belajar akan kebenaran Firman Tuhan,  walaupun seseorang merasa bahwa dia itu adalah orang terpandang, orang terhormat, kaya, cantik, ganteng, atau apapun predikat yang melekat pada dirinya, tetap harus bertobat dan menjadi seperti anak-anak dan terus belajar Firman Tuhan, supaya bisa mengalami pembaharuan pikiran seperti yang Tuhan kehendaki, karena kalau kita tidak mau menjadi seperti anak-anak maka akan sangat sulit atau bahkan samasekali kita tidak akan bisa berubah.

Kalu sudah seperti ini kita tidak bisa lagi berdiri diatas harga diri, atau merasa menjadi orang yang pintar, orang kaya, orang hebat, orang terhormat, orang terpandang, karena bila masih mau mengenakan prinsip seperti ini maka kita tidak mungkin menjadi orang yang berbahagia seperti yang Tuhan kehendaki. Oleh sebab itu cara kita memandang kebahagiaan, cara kita memandang sebuah keberuntungan, cara kita memandang tentang berkat-berkat Allah, semuanya itu harus berubah, dan inilah persoalan utamanya untuk mencapai kebahagiaan yang Tuhan katakan, karena untuk merubah seseorang dari cara hidup yang sudah salah selama bertahun-tahun itu tidak mudah, tetapi kalau kita mau berubah pasti bisa, walaupun itu tidak bisa secara otomatis, sebab harus lewat proses hidup yang panjang. Disinilah kita dituntut untuk berani action, atau mengambil tindakan untuk berubah.

Bila seseorang berani mengambil tindakan untuk berubah maka ia akan bisa berubah dalam kecepatan yang tinggi atau sangat cepat terlihat perubahannya, asal saja ia mau mengambil keputusan untuk action, atau bertindak untuk mulai berubah.

Tuhan Yesus berkata berbahagialah artinyaTuhan mau supaya kita berani berubah, berbelok arah, atau merubah diri, dan kembali menjadi seperti anak-anak, dimana kita tidak lagi mengenakan predikat apapun yang bisa kita banggakan dari sudut pandang dunia. Sebab hanya orang-orang yang berani untuk berubah yang akan menjadi istimewa di mata Tuhan. Kita bisa melihat Paulus yang secara manusia, ia begitu terhormat, pintar, tetapi ia mau bertindak untuk berubah sehingga ia menjadi orang yang beruntung dan begitu istimewa dimata Tuhan. Hal ini terbalik dengan seorang seperti Nikodemus yang tidak berani untuk berubah sehingga ia tidak menjadi orang yang beruntung.

Apapun keadaan kita saat ini, sebagai orang percaya kita harus berani mengambil keputusan untuk berubah, tentu dengan mengerti kebenaran ini kita harus arahkan pandangan kita kepada Tuhan Yesus Kristus, dan belajar menghargai akan kebenaran FirmanNya dan berani bertindak untuk berubah. Kenapa demikian ?. Sebab setiap kebenaran Firman Tuhan yang kita dengar dimanapun dan dalam keadaan apapun, itu merupakan suara Tuhan yang mau mengingatkan kita atau menegur kita, supaya kita bisa menjadi anak-anak Tuhan yang berkenan.

Perkataan berbahagialah, diberkatilah, atau beruntunglah, seperti apa, atau yang bagaimana ?. tidak dikatakan berbahagialan orang-orang yang terhormat, berbahagialah orang-orang yang berpangkat, berbahagialah orang-orang yang kaya, tidak dikatakan demikan. Namun sebelum sampai pada apa yang menjadi landasan berbahagia, kita harus memahami bahwa kata berbahagia itu merupakan panggilan bagi setiap orang percaya untuk menerima setiap kebenaran Firman yang Tuhan Yesus ajarkan, supaya setiap orang percaya memiliki cara berpikir  dan rasa yang berbeda dengan dunia, tetapi yang sesuai atau yang sama dengan Tuhan.

Mengambil keputusan untuk merubah cara berpikir harus disertai dengan tindakan untuk berani percaya, karena dengan kita percaya sungguh-sungguh maka didalamnya ada penyerahan diri secara total kepada Tuhan, artinya tunduk kepada apa yang Tuhan katakan, apa yang Tuhan inginkan. Ingat saya sudah pernah katakan bahwa percaya itu artinya penurutan akan kehendak Allah, jadi kalau kita tidak turut kepada apa yang Tuhan mau berarti kita belum percaya kepada Tuhan.

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Untuk kalimat orang yang miskin dihadapan Allah akan kita bahas pada sesi berikutnya atau pada bagian ke tiga.

Ingat pean ini :

  1. Beranilah mengambil keputusan untuk berubah dalam cara berpikir.
  2. Beranilah untuk percaya, sebab dalam percaya ada penyerahan diri yang total kepada Allah.

Jika engkau diberkati dengan renungan ini, maka berikanlah link renungan ini kepada semua orang yang engkau kasih. renunganhariini.com

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

tags: , , , ,

Related For BERBAHAGIA – BAGIAN 2