HIDUP DALAM PERTOBATAN YANG BENAR

RENUNGAN HARIAN 1610 Kali Dibaca

Renunganhariini.com : Renungan HarianHidup Dalam Pertobatan Yang Benar. Syalom saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Renungan kita saat ini adalah; Pertobatan Yang Benar.

Sebagai orang percaya kita harus tetap menyadari bahwa ada warisan cara berpikir yang salah yang diwariskan sejak saat pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa, dimana pada saat itu manusia lebih memilih untuk mengikuti cara berpikir yang dimiliki oleh iblis, dari pada menuruti perintah Allah.

Kejatuhan manusia itulah yang membuat cara berpikir yang salah itu terus melekat pada pola pikir manusia saat ini, dimana manusia lebih memilih untuk hidup menuruti pola pikir dan keinginan diri sendiri, dan itulah yang membuat banyak orang percaya saat ini juga memiliki gaya hidup yang demikian atau gaya hidup yang sama dengan dunia.

Gaya hidup sama seperti dunia ini bisa kita lihat kembali dalam kisah anak bungsu yang hilang yang pernah kita bahas pada renungan sebelumnya, dan itu ditulis di dalam (Lukas 15:11-32).

Dari kisah ini sesungguhnya kalau kita mau membaca kebenaran firman Tuhan dengan teliti dan benar, maka kita akan menemukan bahwa ada dua anak yang terhilang. Yang pertama terhilang di luar rumah, dan yang ke dua terhilang di dalam rumah. Dikatakan terhilang karena tidak hidup dalam pertobatan yang benar.

Anak yang terhilang di luar rumah adalah anak bungsu yang meminta hak warisannya kepada ayahnya dan pada akhirnya ia pergi dari rumah ayahnya dan hidup menuruti keinginan dirinya sendiri. Akan tetapi diakhir dari perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus itu, anak bungsu yang terhilang ini kemudian menyadari dan menyesali akan kesalahannya, dan ia kembali ke rumah bapanya lalu hidup di dalam pertobatan yang benar.

Hidup dalam pertobatan yang benar artinya, ia bersedia hidup dalam penundukan diri yang penuh dalam kekuasaan atau di dalam dominasi bapanya. Hal itu terlihat dari sikapnya, dimana ia rela bila nantinya ia dijadikan salah satu orang upahan di rumah bapanya.

Lukas 15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Ayat ini menunjukan bahwa ada sebuah rasa penyesalan yang mendalam atas semua yang sudah ia lakukan, oleh sebab itu ia rela bila harus hidup sebagai seorang upahan dirumah bapanya.

Pertobatan Yang Benar

Renungan Harian Kristen : Pertobatan Yang Benar | Renunganhariini.com

Bila anak bungsu ini pada akhirnya hidup dalam pertobatan yang benar, maka hal sebaliknya terjadi pada anak yang sulung, yang juga dapat dikatakan terhilang. Karena dalam perumpamaan ini tidak dikatakan anak yang sulung itu bertobat.

Mungkin kita akan berpikir bahwa ia tidak perlu bertobat karena ia tidak meinggalkan rumah bapanya, ia tidak melakukan hal seperti yang dilakukan oleh adiknya. Tetapi satu hal yang kita lupa bahwa dari sikapnya yang ia tunjukan kepada bapanya, saat adiknya pulang kembali ke rumah, ia telah mempermalukan bapanya di depan orang-orang yang bekerja di rumah bapanya dan juga di depan para tamu yang hadir saat itu.

Lukas 15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Dari kalimat yang diucapkan menunjukan ada rasa iri, serta tidak adanya rasa hormat terhadap bapanya, ia merasa dirinya benar dan tidak perlu bertobat. Hal seperti ini juga sering terjadi dalam kehidupan banyak orang percaya yang terlihat seperti moralis-moralis yang saleh, tetapi pola pikir dan perasaan mereka tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa di sorga. Dan orang-orang seperti ini selalu merasa tidak perlu untuk bertobat, karena mereka akan selalu merasa benar dibandingkan dengan orang lain.

Dari kisah ini, sebenarnya menjadi sebuah pelajaran penting bagi kita yang hidup sebagai orang percaya. Karena selama ini ada begitu banyak orang percaya yang merasa ia tidak pernah meninggalkan Tuhan, hanya karena selalu rajin ke gereja bahkan aktif dalam berbagai kegiatan di gereja.

Hal ini akan membuat orang-orang seperti ini tidak pernah merasa menjadi anak yang terhilang, padahal satu hal yang harus kita sadari adalah, disaat “spirit” atau gairah hidup kita mulai tidak sejalan dengan pikiran dan perasaan Kristus, maka sesungguhnya kita sudah tidak sejalan dengan Bapa di sorga, dan itu artinya kita telah terhilang dari Allah.

Sebagai orang percaya kita harus terus memeriksa dan mencurigai setiap gerak hidup kita, apakah kita masih sepikiran dengan Tuhan atau tidak. Itulah kenapa firman Tuhan katakan di dalam;

Filipi 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Jika kita tidak hidup mengenakan pikiran dan perasaan yang juga terdapat dalam Kristus Yesus, maka sebenarnya kita telah hidup di luar dari kendali Allah Bapa di sorga. Sebab pikiran dan perasaan Kristus itu hanya mempunyai satu tujuan yaitu melakukan semua yang menjadi kehendak Allah Bapa di sorga, dan apapun yang dilakukan, semuanya hanya untuk hormat kemuliaan nama Allah Bapa di sorga.

Pertobatan yang benar harus nyata dalam hidup kita sebagai orang percaya dari hari lepas hari, dimana kita harus melepaskan diri dari semua keterikatan dengan dunia ini, dan hanya hidup untuk melakukan kehendak Allah Bapa di sorga. Dengan kata lain, hidup dalam pertobatan yang benar sebagai orang percaya berarti kita tidak boleh lagi memiliki keinginan diri apapun selain hanya mengingini Tuhan saja.

Kiranya kebenaran ini, semakin mendorong kita untuk mau sungguh-sungguh hidup di dalam pertobatan yang benar yaitu hidup hanya untuk melakukan semua yang menjadi kehendak Allah Bapa di sorga. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Baca juga Renungan : Ciri Orang Percaya Yang Terhilang

Artikel by Pdt.Franky Tutuhatunewa | Copyright © 2016 – Original Content | Renunganhariini.com

tags: ,

Related For HIDUP DALAM PERTOBATAN YANG BENAR