MEWARNAI HIDUP DENGAN PIKIRAN SORGAWI

RENUNGAN HARIAN 1918 Kali Dibaca

Renunganhariini.com : Renungan HarianMewarnai Hidup Dengan Pikiran Sorgawi. Syalom saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Renungan hari ini adalah “Mewarnai Hidup Dengan Pikiran Sorgawi”.

Saudaraku, setiap orang percaya yang mengerti bahwa ia telah disalibkan dan mati bersama-sama dengan Kristus, seharusnya memiliki warna hidup yang berbeda dengan dunia ini. Sebab bila kita telah disalibkan dan mati bersama dengan Kristus, berarti seluruh keinginan hati dan pikiran kita terhadap perkara-perkara duniawi dengan segala kesenangannya, yang tadinya memwarnai kehidupan kita, juga harus dimatikan. Itulah kenapa firman Tuhan katakan di dalam;

Kolose 3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].

Perhatikan kalimat firman Tuhan yang saya garisbawahi di atas, Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi. Jadi bagi setiap orang percaya yang hidupnya saat ini tersembunyi di dalam Kristus, maka segala hal yang merupakan produk-produk yang ditawarkan oleh dunia, yang dapat merangsang keinginan hati dan pikiran kita untuk menikmatinya sudah harus dimatikan, dan kita harus mulai mewarnai hidup kita dengan pikiran-pikiran sorgawi, kita harus mulai berani untuk memiliki hanya satu keinginan saja yaitu menikmati Tuhan saja dan tidak ada yang lain.

Pikiran sorgawi yang saya maksudkan disini adalah seluruh gerak pikiran kita sudah harus ditujukan hanya kepada perkara-perkara sorgawi, perkara-perkara yang berdampak kekal saja, baik itu apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, apa yang kita perbuat, semuanya itu harus memiliki dampak kekal atau bernilai kekal.

Tentu akan membutuhkan perjuangan yang berat untuk beralih dari warna hidup dunia yang sudah terlanjur mengisi hati dan pikiran kita selama bertahun-tahun, dan harus dialihkan hanya untuk memikirkan perkara-perkara sorgawi, dan hal itu tidak akan mudah, akan tetapi justru disinilah letak ujian kehidupan yang sesungguhnya yang harus dilewati oleh setiap kita sebagai orang percaya, jika kita benar-benar ingin ditemukan berkenan dihadapan Allah.

Saya katakan hal ini tidak mudah karena pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang begitu sulit untuk melepaskan dirinya dari ikatan perkara-perkara dunia. Tetapi kalau kita ingin benar-benar menjadi anak-anak Allah Bapa disorga yang berkenan, maka kita harus mulai berpikir dengan jernih. Jadi dalam hal ini kita harus mengambil keputusan untuk tidak lagi memberi kesempatan kepada segala sesuatu yang duniawi mewarnai hidup kita.

Mewarnai Hidup Dengan Pikiran Sorgawi

Renungan Harian Kristen | Mewarnai Hidup Dengan Pikiran Sorgawi | renunganhariini.com

Contoh sederhana, bila selama ini kita memiliki kebiasaan main facebook berjam-jam, bahkan status facebook yang ditulispun adalah ungkapan sakit hati kita terhadap orang lain, atau bahkan ada status dimana kita hanya menjelek-jelekan orang lain, mencaci maki orang lain, atau memiliki kebiasaan nonton sinetron berjam-jam, nonton bola berjam-jam, jalan-jalan di mall berjam-jam, ngurus motor atau mobil kesayangan berjam-jam, ngerumpi dengan teman-teman hanya untuk menggosipkan orang lain berjam-jam, clabing berjam-jam, main gadget berjam-jam hanya untuk selfie dan hal-hal yang lain, dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang selama ini terlanjur mengikat hati kita, dan ironisnya semua kegiatan itu membuat hampir-hampir kita sama sekali tidak memiliki waktu lagi untuk berdoa dan membangun persekutuan dengan Tuhan, namun hal itu dianggap wajar, dianggap sebagai realita hidup, dan ini yang sering saya katakan sebagai tindakan yang konyol.

Sekarang coba kita pikirkan, apakah semua hal yang kita lakukan diatas memiliki dampak kekal?. Apakah semuanya itu bisa membuat kita berkenan dihadapan Tuhan?. Apakah semuanya itu bisa membawa kita ke sorga?.

Kita harus mulai jujur untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, dan ternyata kalau kita akhirnya mengakui bahwa itu semua tidak memiliki nilai kekal, tidak akan membuat kita berkenan dihadapan Tuhan, bahkan tidak dapat membawa kita ke sorga, maka ambillah keputusan sekarang juga untuk meninggalkan itu semua.

Tentu hal itu tidak akan mudah saudaraku, akan tetapi bukan tidak mungkin jika kita benar-benar serius untuk memikirkan hal ini. Merubah diri untuk hanya memikirkan perkara-perkara sorgawi membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan dapat saya katakan hal itu akan berlangsung seumur hidup kita.

Kenapa bisa selama itu?, karena tidak mudah seseorang bisa secara instan mengerti apa yang menjadi kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna, semuanya harus melalui proses hidup.

Mungkin pada akhirnya saudara akan bertanya, bila demikian sulitnya, lalu bagaimana cara untuk mematikan setiap perkara-perkara duniawi yang selama ini sudah terlanjur mengikat hati dan pikiran kita?.

Tidak ada cara lain untuk terlepas dari ikatan perkara-perkara dunia selain kita harus mengubah selera dan keinginan kita, yaitu mulai memiliki rasa lapar dan haus akan kebenaran Allah, sebab orang yang lapar dan haus akan kebenaran Allah akan dipuaskan.

Matius 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Orang yang lapar dan haus akan kebenaran bukan saja akan dipuaskan, tetapi kalimat pertama dari ayat ini sudah mengandung sebuah janji, bahwa orang-orang seperti ini akan berbahagia.

Orang yang sungguh-sungguh memiliki rasa lapar dan haus akan kebenaran Allah, ia akan merasa waktunya akan terbuang menjadi sia-sia jika dalam sehari saja ia tidak memiliki waktu untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Ia akan merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya, ada kegelisahan dalam hatinya bila ia tidak bercakap-cakap dengan Tuhan, tidak ngobrol dengan Tuhan, perasaan hatinya akan terus mengejarnya dan sekan-akan menuduhnya, kenapa begitu banyak waktu terbuang hanya untuk perkara-perkara yang sia-sia.

Kalau kita tidak memulainya maka kita tidak akan pernah tahu kalau Tuhan itu bisa dinikmati secara riil, secara nyata. Orang yang terbiasa memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan akan terlihat dari bagaimana ia bisa menggunakan setiap detik waktu hidupnya yang ia miliki hanya untuk membangun hubungan dengan Tuhan, hanya untuk bergaul dengan Tuhan, sehingga saat mengendarai kendaraanpun, setiap ucapan bibirnya hanya memuliakan Tuhan, berdoa, menyembah, ngobrol dengan Tuhan, akan menjadi kesukaan yang tidak dapat diganti dengan apapun. Dan ini semua merupakan ciri dari orang yang mewarnai hidup dengan pikiran sorgawi. Inilah yang membuat Daud bisa berkata dalam;

Mazmur 62:2 Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. 62:3 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

Orang yang bergaul dengan Tuhan, yang hanya memikirkan Tuhan, memikirkan perkara-perkara sorgawi, maka ia tetap percaya bahwa dalam keadaan seperti apapun, ia tidak akan pernah goyah, sebab Tuhan akan menjadi benteng perlindungan bagi kehidupannya.

Saudaraku yang Tuhan Yesus kasihi, hal ini akan berbeda dengan orang yang menggantungkan dirinya dan mengikat dirinya dengan perkara-perkara duniawi, saat persoalan datang, saat masalah datang, ia akan menjadi orang yang rapuh, karena ia sama sekali tidak memiliki pengharapan yang lain, sebab semua pengharapannya ia gantungkan kepada semua perkara dunia yang hanya bisa memberinya kesengan sementara.

Saudaraku, mulailah saat ini untuk merindukan Tuhan lebih dari apapun, lebih dari semua yang kita miliki. Jadikan Tuhan sebagai satu-satunya pokok kesengan dan kesukaan kita, dan saat kita benar-benar merindukan Tuhan, percayalah bahwa Tuhan pun begitu merindukan kita sebagai anak-anakNya yang dikasihiNya.

Satu kisah yang sangat menarik dan merupakan kebenaran yang dapat mendorong kita untuk semakin haus dan lapar akan Tuhan adalah kisah Henokh, firman Tuhan katakan di dalam;

Kejadian 5:22 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 5:23 Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. 5:24 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Perhatikaan kata yang saya garisbawahi dimana Henokh bergaul dengan Tuhan selama tiga ratus tahun lagi, ini artinya sebelumnya juga ia telah bergaul dengan Tuhan, dan ini juga artinya Henokh hanya mengarahkan seluruh hidupnya untuk bergaul dengan Tuhan. Dampaknya seperti apa?. Firman Tuhan katakan pada ayat 24. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Itulah yang saya katakan kalau kita sungguh-sungguh merindukan Allah lebih dari apapun, maka Allah Bapa di sorga pun merindukan kita dan ingin cepat-cepat berjumpa dengan kita sebagai anak-anakNya.

Oleh sebab itu saudaraku, mulailah mewarnai hidup dengan pikiran sorgawi, yaitu pikiran yang hanya memuliakan Tuhan saja. Kiranya kebenaran ini memberkati kita semua. Amin.

Baca Juga Renungan :

Memutuskan Hubungan Dengan Dunia Lama

Artikel by Frank Tutu | Copyright © 2015 – Original Content | renunganhariini.com

tags: , ,

Related For MEWARNAI HIDUP DENGAN PIKIRAN SORGAWI