PANTASKAH KITA MENGKLAIM JANJI TUHAN

RENUNGAN HARIAN 1921 Kali Dibaca

Renunganhariini.com : Renungan Harian – Pantaskah Kita Mengklaim Janji Tuhan. Shalom saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, renungan kita saat ini adalah, Pantaskah Kita Mengklaim Janji Tuhan.

Saudaraku, dalam pengajaran kebenaran firman Tuhan yang berkembang akhir-akhir ini, seringkali kita mendengar ada pengajaran-pengajaran yang mengarahkan jemaat untuk mengklaim janji Tuhan. Dan tentu yang dikalim adalah semua hal yang berhubungan dengan kenyamanan hidup.

Biasanya yang dikalim adalah doa pemutusan kutuk kemiskinan, pemulihan ekonomi, supaya tidak bangkrut, supaya usahanya sukses, supaya naik jabatan, dan berbagai hal lainnya.

Semua ini diajarkan seolah-olah kita bisa mengatur Tuhan seenaknya sesuai dengan apa yang kita mau, sehingga begitu mudahnya jemaat yang tidak sungguh-sungguh mengerti akan kebenaran firman Tuhan dengan benar, lalu ikut-ikutan mengklaim ini dan itu sesuai apa yang mereka inginkan.

Pertanyaannya sekarang, pantaskah kita mengklaim janji Tuhan?. Siapakah kita sehingga kita bisa mengatur Tuhan?. Kita harus ingat bahwa hukum tabur tuai itu tidak bisa dibatalkan dengan doa, dimana kita hanya berdoa dan mengklaim ini dan itu sesuka hati kita.

Allah itu adalah Allah yang adil, dan Allah tidak dapat menyangkal atau mengkhianati kebenaran firman-Nya yang tertulis di dalam Alkitab. Ingat doa tidak bisa membatalkan hukum yang sudah tertulis tentang tabur tuai, bahwa apa yang ditabur itu yang akan dituainya. Saya sering katakan dalam beberapa renungan yang lalu, jangan menggantikan tanggung jawab dengan doa.

Galatia  6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Jadi kalau kita menjadi orang yang malas dan tidak mau bekerja keras, hidup hanya menyia-nyiakan waktu yang sudah Tuhan berikan setiap hari, tidak memiliki pola hidup yang benar, maka kita akan menuai dari semua itu.

Pantaskah Kita Mengklaim Janji Tuhan

Renungan Harian : Pantaskah Kita Mengklaim Janji Tuhan | Renunganhariini.com

Ingat Tuhan tidak bisa kita atur semaunya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saya sering katakan kepada jemaat, jangan memiliki iman gembel. Artinya bila terbentur dengan masalah ekonomi, seperti makan minum dan pakai, masalah pekerjaan, masalah usaha, lalu seenaknya kita berdoa dan mengklaim supaya Tuhan pulihkan semuanya.

Kalau memang masalah yang kita hadapi itu masalah ekonomi, maka periksa diri kita, apakah kita sudah berjuang, berusaha dan bekerja keras, atau malah sebaliknya kita hanya berdoa mengklaim Tuhan, menunggu mujizat Tuhan tanpa mengambil tindakan  untuk berbuat sesuatu. Kalau sampai ada masalah ekonomi yang terjadi, kita harus tau apa akar permasalahan itu apa, sebab kalau itu terjadi karena kita malas, maka kita harus bertanggung jawab atas akibat dari kemalasan kita.

Kalau masalahnya sakit penyakit yang kita alami, maka periksalah cara hidup kita selama ini, apakah kita sudah menjaga pola hidup sehat dengan baik atau tidak. Jangan kita tidak pernah menjaga kesehatan dengan cara berolah-raga, tidak menjaga pola makan yang benar, tidak mempergunakan waktu istirahat dengan baik, lalu saat sakit seenaknya saja kita mengklaim Tuhan untuk meminta kesembuhan ilahi.

Hal-hal semacam ini bisa terjadi juga pada masalah-masalah yang lainnya. Jadi kalau ada masalah yang kita hadapi, lihat dulu pokok masalahnya apa, jangan denngan mudahnya kita mengklaim Tuhan, seolah-olah Tuhan-lah yang bertanggung jawab atas semua akibat dari apa yang kita lakukan.

Seringkali saat kita merasa berkecukupan, maka kita hidup foya-foya sesuka hati kita tanpa memikirkan dampak dari cara hidup kita itu, lalu bila bangkrut, dengan mudahnya kita berdoa, atau meminta  hamba Tuhan berdoa supaya dipulihkan dari kebangkrutan.

Konyolnya lagi banyak hamba Tuhan yang ikut-ikutan berdoa mengkalim Tuhan tanpa melihat persoalannya dengan hati nurani yang benar. Kenapa sampai orang yang akan di doakan itu bangkrut, kenapa sampai orang itu sakit, dan lain sebagainya.

Kalau hanya masalah berkat, tanpa kita meminta Tuhan sudah menyediakan semuanya. Persoalannya kita mau bertanggung jawab atau tidak untuk berjuang, bekerja keras dengan penuh tanggung jawab untuk mendapatkan apa yang kita perlukan demi memenuhi semua keperluan hidup kita.

Matius 6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Seringkali yang kita persoalkan hanyalah pemenuhan kebutuhan jasmani, yang bisa memberi kita kenyamanan hidup di dunia ini. Padahal kita lupa bahwa ada hidup yang lebih penting yang harus kita persoalkan dengan serius yaitu kehidupan yang akan datang di kekekalan.

Kalau hanya persoalan ekonomi seperti makan minum dan pakai, maka firman Tuhan katakan, semua itu juga dicari baangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.

Matius 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Kalau hanya tujuannya pemenuhan kebutuhan jamani, maka bekerjalah dengan rajin, memanfaatkan waktu yang Tuhan berikan dengan baik, jaga pola hidup yang sehat, maka semua akan berjalan dengan baik. Kita harus tetap percaya bahwa sebagai anak-anak Tuhan, Bapa di sorga pelihara hidup kita dengan sempurna, tetapi Ia mau supaya kita juga bertanggung jawab dengan hidup ini selama kita masih ada di dunia.

Jadi disini kita mengerti bahwa yang kita perlukan adalah tanggung jawab, bukan sebaliknya tanggung jawab diganti dengan doa seorang pendeta. Tanpa pendeta berdoa, kita bisa berdoa sendiri kepada Bapa di sorga, sebab kuasa itu bukan hanya diberikan kepada pendeta, tetapi kuasa itu diberikan kepada semua orang percaya.

Hendaknya kita tidak bergantung kepada seorang hamba Tuhan, tetapi belajarlah bergantung sepenuhnya kepada Allah Bapa di sorga, dan tetap mengerjakan tanggung jawab kita, supaya dalam setiap masalah yang kita hadapi, kita tidak menjadi takut, tetapi kita tahu dan kita tetap percaya bahwa Dia adalah Bapa yang baik yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya yang berharap kepada-Nya.

Seorang pendeta bisa saja berdoa supaya Tuhan memenuhi umatnya atau jemaatnya dengan berkat-berkat yang melimpah. Hal ini tidak salah, akan tetapi kemudian menjadi salah kalau hanya berdoa, lalu sebagai jemaat kita tidak mau bekerja keras dengan penuh tanggung jawab. Kalau kita melakukan itu, sama saja dengan kita melecehkan Tuhan.

Akibat dari pemahaman yang salah akan kebenaran firman Tuhan, maka saat ini kita bisa melihat ada begitu banyak cacat mental orang percaya, dimana mereka lebih suka untuk menggantikan tanggung jawab yang harus dipikulnya dengan “karunia.”

Ingat, karunia Allah diberikan kepada kita supaya kita hidup penuh dengan tanggung jawab. Jadi tanggung jawab janganlah kita gantikan dengan doa. Mengerti akan kebenaran ini, seharusnya membuat kita tidak lagi dengan mudah, mengklaim janji Tuhan sesuai keinginan hati  kita. Kiranya kebenaran ini memberkati kita semua. Amin.

Baca Juga : Renungan Hidup Orang Percaya

Artikel by Pdt.Franky Tutuhatunewa | Copyright © 2016 – Original Content | Renunganhariini.com  

tags: ,

Related For PANTASKAH KITA MENGKLAIM JANJI TUHAN