RUANG MAHA KUDUS

RENUNGAN HARIAN 936 Kali Dibaca

Doa : Tuhan Yesus, kembali datang kepadamu saat ini, dan kami rindu Engkau terus mengajar kami untuk semakin mengerti akan kebenaranMu, supaya oleh kebenaranMu ya Tuhan kami semakin hari semakin memiliki hati yang haus akan Engkau, dan kami mau terus mencariMu setiap saat dalam seluruh gerak hidup kami, tolong kami Tuhan supaya saat kami membaca akan kebenaran FirmanMu ini, kami boleh semakin mengerti akan kehendakMu, haleluya. Amin.

Yesaya 55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Dalam perjalanan hidup kita sebagai orang percaya kita harus jujur bahwa ternyata selama ini keinginan kita untuk bergaul dengan Tuhan, untuk mencari Tuhan, belum menjadi sebuah keinginan yang mendominasi hati dan pikiran kita maupun seluruh hidup kita, artinya sebagian besar keinginan hati kita masih tertuju kepada hal-hal dunia yang bisa kita lihat dan jumpai setiap hari, sehingga ruang hati kita dan pikiran kita belum seratus persen menjadi sebuah ruang yang maha kudus, ruang yang khusus, yang hanya boleh didominasi oleh Tuhan.

Hal inilah yang masih terjadi dalam kehidupan begitu banyak orang-orang percaya atau anak-anak Tuhan, dan keadaan ini tidak pernah mereka sadari. Ini menjadi sebuah tanda atau bukti bahwa ada begitu banyak orang percaya, atau anak-anak Tuhan yang belum memiliki hati yang benar-benar mau serius berurusan dengan Tuhan, belum memiliki hati yang benar-benar haus akan Tuhan.

Kebenaran firman Tuhan yang ditulis dalam Yesaya 55:6 ini, sering hanya terjadi dihari-hari pertama, atau bulan-bulan pertama, atau tahun pertama dari kehidupan setiap anak Tuhan yang baru bertobat dan masih memiliki kasih mula-mula kepada Tuhan, memiliki rasa haus untuk mencari Tuhan, tetapi setelah itu kasih mula-mula itu mulai pudar karena tercemari oleh daya tarik dunia yang begitu kuat. Itulah kenapa saya sering katakan proses pengiringan kita akan Tuhan itu tidak mudah.

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui. Kalimat ini seharusnya membuat kita memiliki rasa gentar, sebab bila saatnya Tuhan tidak mau lagi ditemui berarti itu adalah sebuah tanda-tanda kebinasaan terhadap orang-orang yang tidak mau mencari Dia dengan sungguh-sungguh. Saya katakan Tuhan tidak mau lagi ditemui bukan tanpa dasar, karena setiap hari dalam perjalanan kehidupan kita sebagai orang percaya, atau sebagai anak-anak Tuhan, kita lebih suka berurusan dengan perkara-perkara dunia dari pada berurusan dengan Tuhan, sehingga kita sendirilah yang mematikan hasrat hati kita untuk mencari Tuhan.

Dikatakan juga, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!. Artinya kalau setiap hari kita tidak pernah lagi membiasakan diri memberi waktu yang khusus, waktu yang special, waktu yang terbaik, datang dan berjumpa dengan Tuhan, datang dan berseru kepada Tuhan, maka pada suatu titik tertentu, perasaan kita haus akan Tuhan menjadi sirnah, perasaan kita akan kasih mula-mula kepada Tuhan menjadi mati, sehingga kita akan merasa seperti Tuhan begitu jauh dari kita, rasanya seperti Tuhan tidak mau lagi menemui kita, dan perasaan ini tercipta karena hasrat keinginan kita akan perkara-perkara dunia yang terlanjur mendominasi hati dan pikiran kita.

Sebagai orang percaya atau sebagai anak-anak Tuhan kita harus memiliki kepekaan untuk melihat dan mengoreksi cara hidup kita, mengontrol sikap hati kita, supaya hausnya kita kepada Tuhan tidak pudar, kerinduan kita untuk masuk dan diam dalam hadirat Tuhan tidak hilang. Harus ada rasa gentar, rasa ngeri yang mendalam bahwa bila Tuhan tidak mau lagi ditemui berarti perjalanan hidup kita sebagai orang percaya menjadi sia-sia, karena akan berakhir dalam kebinasaan.

Kita harus menyadari sungguh bawah siapakah kita ini, kita ini hanya mahkluk ciptaan yang pada dasarnya harus tunduk sepenuhnya dan taat sepenuhnya kepada sang pencipta, yaitu Allah yang kudus yang kita panggil didalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Tetapi konyolnya yang terjadi sebaliknya, dimana cara hidup kita menunjukan seakan-akan Tuhanlah yang membutuhkan kita, Tuhanlah yang memerlukan kita. Ini digambarkan dengan cara hidup kita yang tidak pernah serius untuk menyediakan waktu yang khusus, waktu yang terbaik dari hidup kita untuk datang kepada Tuhan.

Kita hanya menyediakan waktu untuk Tuhan, kalau hari minggu pergi ke gereja, karena secara agama kita adalah orang kristen yang biasanya hari minggu ke gereja, dan hal ini dilakukan sebagai rutinitas kehidupan beragama saja, tetapi bukan sebagai sebuah kerinduan, bukan sebagai sebuah kesukaan, bukan sebagai sebuah kesenangan untuk berjumpa dengan Tuhan secara khusus.

Jadi kalau Firman Tuhan katakan carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, itu harus dilihat sebagai sebuah panggilan dari Tuhan, bahwa selama masih ada nafas hidup yang kita hirup, ingatlah bahwa kalau Tuhan masih mau bertemu dengan kita, itu berarti suatu kesempatan yang luar biasa, itu berarti satu peristiwa yang tidak bisa diganti dengan kesenangan apapun, sebab kesempatan ini akan hilang dan tidak pernah kembali lagi saat kita sudah berada diujung nafas yang terakhir, kita tidak punya kesempatan lagi untuk mencari Tuhan, dan orang yang tidak pernah mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh selama ia masih hidup di dunia ini, pada akhirnya diujung kehidupannya, dalam kehidupan yang sesungguhnya dibalik kematian, maka dapat dipastikan ia tidak memiliki kesempatan kedua dan akan terbuang dari hadapan Tuhan selama-lamanya.

Itulah kenapa saya selalu katakan, kita harus punya rasa takut, kita harus punya rasa gentar, kita harus punya rasa ngeri, bahwa suatu saat nanti kehidupan ini bisa berakhir dengan tragis. Saya katakan bisa berakhir dengan tragis karena kesenangan dunia yang kita nikmati saat ini, pencarian kita terhadap perkara-perkara dunia ini, bisa membuat kita lupa diri, bisa membuat kita lupa bahwa dibalik kematian nanti ada pertanggungjawaban terhadap kehidupan yang kita jalani selama kita masih hidup didunia ini.

Kalau sekarang kita sadar bahwa ternyata mengejar kesenangan dunia tidak akan bisa membawa kita kepada Tuhan, maka kita harus memiliki prinsip seperti apa yang Paulus katakan, asal ada makanan dan pakaian cukuplah. Kenapa . . ? karena kita tidak akan membawa apa-apa saat kita akan kembali kepada Tuhan.

I Timotius 6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. 6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Kalau ini yang menjadi dasar dari prinsip hidup kita sebagai orang percaya, maka rasa haus kita akan Tuhan tidak akan pernah mati.

Tanamkan beberapa hal ini dalam hati dan pikiran kita mulai saat ini:

  1. Selama kita masih menghirup nafas hidup ini, kita harus menyediakan waktu yang terbaik untuk berjumpa dengan Tuhan setiap saat.
  2. Ruang hati kita harus menjadi ruang maha kudus yang hanya boleh diisi oleh Tuhan.
  3. Kita harus tetap ingat bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang lapar dan haus akan Tuhan, sperti yang dikatakan dalam Matius 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Kiranya kebenaran ini semakin membuat kita menyadari bahwa selama ini kita tidak pernah memberikan waktu yang terbaik untuk mencari Tuhan. Lalu kita berubah dan kembali membuat hati ini menjadi ruang maha kudus yang hanya di isi oleh Tuhan, dan bukan oleh perkara-perkara dunia. Amin.

tags: , ,

Related For RUANG MAHA KUDUS