MENYINGKAP POTENSI PENYESATAN DALAM GEREJA

SANTAPAN ROHANI 1158 Kali Dibaca

Renunganhariini.com : Santapan Rohani – Menyingkap Potensi Penyesatan Dalam Gereja. Syalom saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, santapan rohani kita saat ini adalah, Menyingkap Potensi Penyesatan Dalam Gereja.

Selama ini kita mungkin berpikir bahwa penyesatan itu hanya bisa terjadi di luar gereja, misalnya di klub-klub malam atau diskotik-diskotik, tempat-tempat hiburan seperti karaoke dan lain sebagainya. Pada prinsipnya kita berpikir bahwa penyesatan itu hanya ada di luar gereja dan di tempat hura-hura untuk menikmati kesenangan dunia.

Ini adalah pola pikir yang salah, sebab penyesatan tidak hanya terjadi di luar gereja, tetapi penyesatan juga bisa terjadi di dalam gereja. Hal inilah yang selama ini tidak pernah kita pikirkan, sebab kita selalu beranggapan kalau sudah di dalam gereja itu berarti semuanya baik.

Potensi penyesatan terjadi di dalam gereja inilah yang sesungguhnya sangat mengerikan. Itulah sebabnya kita harus mengenali dengan benar dan teliti, setiap jalur-jalur penyesatan tersebut, supaya sebagai orang percaya yang memiliki pengharapan akan keselamatan, kita bisa terhindar dari penyesatan tersebut.

Adapun jalur penyesatan di dalam gereja yang paling dominan dan sangat berbahaya adalah melalui pengajaran yang tidak memiliki landasan kebenaran firman Tuhan yang murni. Artinya kebenaran firman Tuhan yang disampaikan tidak diangkat dari penafsiran yang benar sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Jemaat seringkali tidak menyadari akan hal ini, karena pengajaran-pengajaran tersebut dibungkus dengan sebuah kemasan yang menarik, sehingga hal itu bisa memikat hati dan pikiran setiap jemaat dan membuat jemaat menjadi terlena dan menerima begitu saja pengajaran yang disampaikan. Bahanyanya lagi, pengajaran itu dianggap sebagai firman Tuhan yang benar. Padahal apa yang sidampaikan itu murni lahir dari pikiran manusia.

Satu hal yang perlu disadari mulai saat ini adalah, pengajaran yang lahir dari pikiran manusia sesungguhnya bersumber dari cara berpikir dunia. Setiap orang percaya harus menyadari akan hal ini. Pola pikir dunia inilah yang dikemas sedemikian rupa, sehingga akan terlihat sebagai sebuah kebenaran yang berasal dari Allah dan alkitabih. Dan bahayanya pengajaran seperti inilah yang sangat disukai, karena dianggap sesuai realita hidup dan mudah diterima.

Yang lebih bahaya lagi, penafsirnya atau orang yang menyampaikan pengajaran tersebut menganggap bahwa apa yang disampaikannya adalah merupakan suara Roh Kudus, atau lahir dari hikmat yang diberikan Allah, namun sesungguhnya tidak demikian. Mari kita lihat apa yang firman Tuhan katakan di dalam;

2 Korintus 11:2 Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. 11:3 Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.

Dari kebenaran ini ada sebuah pesan bahwa, kita harus waspada, karena pikiran manusia bisa disesatkan oleh iblis. Jadi disini kita bisa mengerti bahwa, pikiran manusialah yang dipakai oleh iblis sebagai kendaraannya untuk melakukan penyesatan seperti yang direncanakannya.

Menyingkap Potensi Penyesatan Dalam Gereja

Santapan Rohani : Menyingkap Potensi Penyesatan Dalam Gereja | Renunganhariini.com

Salah satu contoh yang bisa kita lihat secara nyata dimana pikiran manusia menjadi kendaraan yang bisa dipakai iblis untuk menyesatkan, adalah saat Petrus menganggap apa yang ia buat itu baik, tetapi ternyata di mata Tuhan itu berasal dari iblis. Inilah yang di tulis di dalam;

Matius 16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. 16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” 16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Disini pada akhirnya kita bisa mengerti bahwa, betapa seorang pembicara yang menyampaikan kebenaran firman Tuhan di atas mimbar, memiliki tanggung jawab serta pergumulan yang sangat berat. Pembicara diatas mimbar harus benar-benar bergumul dan berpekara dengan Tuhan, supaya semua pengajarannya, semua kebenaran firman Tuhan yang di sampaikan harus  murni sesuai dengan pikiran Tuhan.

Satu hal yang harus kita mengerti, pertumbuhan rohani setiap jemaat, kualitas iman percaya setiap jemaat, itu sangat bergantung pada isi pengajaran dari setiap pembicara atau setiap hamba Tuhan yang menyampaikan kebenaran firman Tuhan tersebut.

Seringkali saya berbicara keras kepada jemaat, dan saya katakan “saya menyampaikan kebenaran firman Tuhan secara keras seperti ini, dengan mengajarkan jemaat untuk tidak boleh lagi mencintai dunia ini, dan harus mematikan semua keinginan diri, hidup harus terus mengenakan pikiran kristus, serta melakukan kehendak-Nya” hal itu semata-mata karena saya tidak ingin ada jemaat Tuhan yang disesatkan, dan juga saya tidak ingin berhutang darah dihadapan Tuhan.

Setiap pembicara diatas mimbar gereja harus menyadari bahwa, sebagai pembicara atau pengajar, ia akan dihakimi dengan ukuran yang lebih berat. Dan itulah yang dikatakan di dalam;

Yakobus 3:1 Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

Dari apa yang saya kemukakan saat ini hanya memiliki satu tujuan yaitu, kita harus semakin peka terhadap setiap pengajaran yang disampaikan oleh seorang pembicara atau seorang hamba Tuhah di atas mimbar. Mintalah pimpinan Roh Kudus, supaya diberikan kepekaan untuk mengerti  dengan benar setiap kebenaran firman Tuhan yang disampaikan.

Lebih dari pada itu, kita harus ingat apa yang Tuhan Yesus katakan, sebagai orang percaya kita harus terus berjaga-jaga, supaya pikiran kita tidak mudah disesatkan, atau tidak mudah dipakai oleh iblis sebagai kendaraan yang bisa menyesatkan kita. Setiap saat kita harus sadar bahwa ada pengaruh jahat yang bisa merusak pikiran kita melalui pengajaran, dan hal itu seperti yang digambarkan oleh firman Tuhan sebagai ragi.

Matius 16:6 Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.”

Ragi orang farisi yang dimaksudkan dalam ayat ini menunjuk kepada adanya pengaruh negatif yang terjadi melalui pengajaran, serta sikap hidup yang ditunjukan oleh “pengajar-pengajar palsu”. Hal ini sangat berbahaya bagi jemaat Tuhan yang tidak memahami kebenaran firman Tuhan dengan benar.

Kalau firman Tuhan telah menunjukan bahwa penyesatan itu sudah ada sejak dulu, maka kita harus sadar bahwa penyesatan itu akan terus terjadi, bahkan sampai saat ini tetap terjadi, sebab iblis terus berjuang keras untuk menyesatkan anak-anak Tuhan lewat pikiran, termasuk didalamnya pemikiaran pada pengajar atau hamba-hamba Tuhan. Inilah penyesatan terselubung itu, kelihatannya benar, tetapi ternyata sesat.

Oleh sebab itu mulai saat ini, jangan lagi kita menjadi jemaat yang hanya menerima dan menelan begitu saja setiap kebenaran firman Tuhan yang disampaikan, kita harus terus bertanya kepada Tuhan, supaya Roh Kudus memberikan pencerahan kepada kita. Itulah kenapa sangat penting setiap orang percaya memiliki persekutuan dengan Tuhan secara terus-menerus setiap hari dengan tidak putus-putusnya.

Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa kita harus berhati-hati, sebab iblis akan selalu berjuang untuk menyesatkan kita, bahkan ia berusaha untuk mencuri kehidupan kita dan membawa kita kepada kebinasaan. Firman Tuhan katakan di dalam;

Yohanes 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Jelas bahwa pencuri yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah iblis, yang terus berusaha mencuri hidup kita. Mencuri artinya, mengambil kepunyaan orang lain secara diam-diam, tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Jadi yang dimaksudkan dengan pencuri dalam ayat ini adalah, iblis secara diam-diam menggunakan pikiran orang-orang yang diakui sebagai hamba Tuhan untuk menyampaikan firman yang palsu. Dan karena yang menyampaikannya adalah hamba Tuhan, maka jemaat menerima begitu saja. Inilah bahayanya kalau kita tidak memiliki kepekaan.

Jadi kita harus mengerti bahwa yang dicuri oleh iblis itu adalah, hidup kita. Hidup yang berkualitas seperti yang Allah kehendaki, itulah yang digambarkan dengan kalimat “mempunyainya dalam segala kelimpahan”. Kata kelimpahan yang dimaksudkan dalam ayat ini bukan materi, tetapi berbicara tentang kualitas hidup sebagai orang percaya, dan inilah yang ingin dicuri oleh iblis.

Pengajaran yang salah, yang disampaikan oleh “hamba Tuhan, atau rohaniwan” adalah ibarat racun yang diberikan kepada jemaat, tetapi racun itu diminum tanpa disadari, dan pada taraf tertentu banyak anak-anak Tuhan yang sudah tidak bisa lagi diubah dari pemahaman firman yang salah atau yang palsu tersebut. Inilah yang firman Tuhan maksudkan di dalam;

2 Timotius 4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Adapun korban penyesatan ini terjadi pada orang-orang kristen, atau anak-anak Tuhan yang tidak bertumbuh dalam pengertian dan pengenalan akan kebenaran firman Tuhan yang benar. Hal ini akan membuat mereka tidak dapat membedakan mana injil yang murni dan mana injil yang palsu.

Jika ini terus terjadi maka tanpa disadari, sebenarnya bahaya telah mengancam masa depan kehidupan setiap orang yang telah disesatkan oleh pengajaran yang salah tersebut. Pada akhirnya masa depan kehidupan kekal orang-orang seperti ini akan berujung pada kebinasaan kekal, setelah berada dibalik kematian nanti.

Kiranya kebenaran ini membuka mata hati dan pikiran kita untuk terus berjaga-jaga, dan semakin peka terhadap berbagai pengajaran yang paslu. Pada artikel berikutnya, kita akan tetap berbicara tentang penyesatan, tetapi yang akan kita bahas adalah ciri-ciri dari penyesatan terselubung tersebut. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Baca juga : Memiliki Gairah Hidup Kudus

Artikel by Pdt.Franky Tutuhatunewa | Copyright © 2016 – Original Content | Renunganhariini.com

tags: , ,

Related For MENYINGKAP POTENSI PENYESATAN DALAM GEREJA