PROSES KESELAMATAN DI DALAM TUHAN – Bagian 2

SANTAPAN ROHANI 1155 Kali Dibaca

Renunganhariini.com : Santapan RohaniProses Keselamatan Di Dalam Tuhan. Syalom saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Santapan rohani saat ini, kita akan bicara tentang Proses Keselamatan Di Dalam Tuhan bagian yang ke 2.

Pada bagian pertama kemarin sudah dijelaskan, bila kita tidak hidup sesuai dengan selera Bapa, tidak sesuai keinginan Bapa, tidak sesuai kemauan Bapa, maka kita tidak akan menjadi bagian dari orang-orang yang masuk dalam proyek penyelamatan Allah.

Kenapa demikian?. Karena kalau tidak demikian standarnya, maka Tuhan Yesus tidak perlu datang ke dunia. Jadi jangan berpikir bahwa proyek penyelamatan ini bisa berlangsung dengan sendirinya, itu tidak bisa.

Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyediakan fasilitas keselamatan yaitu;

  • Penebusan (Matius 28:18-20)

Matius 28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Kenapa Tuhan Yesus berkata demikian?, karena Ia taat melakukan kehendak Bapa di sorga sampai mati di atas kayu salib. Oleh sebab itu Bapa menyerahkan segala kuasa ke dalam tangan-Nya, untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid-Nya dan membentuk mereka sesuai dengan keinginan Tuhan. Firman Tuhan katakan di dalam;

Ibrani 5:9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

Jadi disini kita bisa melihat bahwa walaupun Dia adalah anak Allah, tetapi Ia belajar taat dari apa yang diderita-Nya, dan setelah Ia mencapai kesempurnaan, maka Ia menjadi pokok keselamatan bagi orang yang percaya dan taat kepada-Nya.

  • Tuhan memberikan injil

Itulah kenapa Tuhan Yesus mengajar atau melayani selama tiga setengah tahun, sebelum Ia disalibkan. Sebab kalau tidak memerlukan injil maka Tuhan Yesus tidak perlu mengajarkan injil. Itulah kenapa firman Tuhan katakan di dalam;

Roma 1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Mungkin saudara akan bertanya, sebenarnya yang menyelamatkan itu injil atau darah Yesus?. Ingat, darah Yesus itu yang menebus, tetapi pembaharuan manusia itu terjadi oleh kuasa injil, dan Roh Kudus dimetraikan. Itulah kenapa firman Tuhan katakan didalam;

Yohanes 14 :26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Artinya, bagaimana kita bisa ingat kalau kita tidak pernah mendengar, artinya Roh Kudus bisa mengingatkan segala sesuatu, tetapi bagaimana Roh Kudus akan mengingatkan kita kalau tidak ada injil yang pernah kita dengar, tidak pernah kita baca.

  • Proses penggarapan Allah

Setelah kita mendengar injil, maka kita akan masuk dalam proses penggarapan Tuhan. Namun penggarapan Tuhan tidak akan kita mengerti, kalau kita tidak memiliki kecerdasan roh. Ini semua adalah fasilitas keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Proses Keselamatan Di Dalam Tuhan - Bagian 2

Santapan Rohani : Proses Keselamatan Di Dalam Tuhan – Bagian 2 | renunganhariini.com

Jadi keselamatan itu tidak terjadi secara otomatis. Sebab mulai dari penebusan oleh darah Yesus kita terima dengan iman, setelah itu injil harus kita pelajari dengan sungguh-sungguh, dimana semuanya itu memerlukan perjuangan.

Jadi kalau selama ini ada pengajaran yang mengesankan bahwa keselamatan itu bisa terjadi dengan sendirinya, hal ini sangat menyedihkan, dan itu merupakan penyesatan.

Kita harus mengerti bahwa kekristenan itu bukan soal baik atau buruk, halal atau haram, boleh atau tidak. Kekristenan tidak bicara mengenai hal itu, tetapi kekristenan berbicara soal kecerdasan roh, sehingga orang bisa mengerti akan kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dengan cara inilah orang bisa sungguh-sungguh memuliakan Tuhan.

Oleh sebab itu kita harus memperhatikan dengan benar setiap tindakan hidup kita, atau sikap hidup kita apakah kita benar-benar menghormati Tuhan atau sebaliknya kita melukai hati Tuhan.

Itulah kenapa kita harus menjadi orang percaya yang menghormati Tuhan bukan hanya di gereja saat menyanyikan lagu-lagu pujian seperti, (ku sembah Kau Tuhan . . .), lalu kita menganggapnya bahwa hal itu sudah menghormati dan memuliakan Tuhan.

Penghormatan kita kepada Tuhan harus lahir dari sikap hati yang benar-benar mau tunduk dan taat dalam kedaulatan Allah, sama seperti Kristus telah taat kepada Bapa di sorga. Jadi tidak boleh hanya diganti dengan ibadah dua jam di gereja lalu kita merasa sudah memuliakan Tuhan.

Ibadah kita kepada Tuhan yang sesungguhnya itu berlangsung setiap hari, dalam sepanjang hari-hari hidup kita, dan bukan hanya hari minggu selama dua jam di gereja. Dalam menjalani hari-hari hidup itulah, kita harus tetap ada dalam sikap hati menghormati, mengagungkan dan memuliakan Tuhan. Dan sikap hati seperti itulah yang akan membuat kita semakin peka terhadap kehendak Bapa di sorga.

Seperti orang beribadah, liturgi kehidupan kita selama 24 jam dalam sehari kita hidup, semuanya itu harus sesuai dengan selera Tuhan, keinginan Tuhan, kehendak Tuhan. Itulah hidup melakukan kehendak Bapa di sorga. Sampai di titik inilah baru kita akan menjadi orang yang masuk dalam proyek penyelamatan.

Itulah kenapa saya katakan, hidup melakukan kehendak Allah itu bukan proses yang mudah, atau proses yang hanya berlangsung dalam waktu singkat. Sebab untuk bisa melakukan kehendak Allah, itu memerlukan proses yang panjang. Itulah kenapa kita harus memiliki kecerdasan roh, karena melakukan kehendak Allah itu tidak sama dengan proses melakukan hukum moral pada umumnya, tetapi bagaimana kita bisa mengerti, manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Jadi ada mekanisme yang harus dilakukan dalam proses penyelamatan, dan bukan otomatis selamat. Itulah kenapa firman Tuhan katakan; Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Olehnya, fokus pelayanan gereja Tuhan harus tertuju kepada hal yang satu ini, dan bukan mengajarkan jemaat sehingga memiliki fokus hanya kepada berkat-berkat jasmani. Sebab kalau hanya berkat jasmani firman Tuhan katakan, semua itu juga dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Itu artinya kalau hanya persoalan makan, minum dan pakai atau persoalan berkat jasmani lainnya bisa diperjuangkan.

Kalau gereja tidak mengajarkan jemaat untuk memiliki orientasi berpikir hanya kepada hal yang satu ini yaitu masuk dalam proses penyelamatan, maka gereja akan membawa jemaatnya menuju kebinasaan kekal, karena jemaat tidak akan mengerti bagaimana melakukan kehendak Bapa di sorga.

Jadi selama kita ada di dunia ini, kita harus memanfaatkan waktu hidup kita hanya untuk mengejar yang satu ini, sebab tidak ada cara lain untuk bisa memiliki kecerdasan roh, selain kita harus belajar injil dengan sungguh-sungguh, supaya kita bisa mengerti apa yang menjadi kehendak Allah.

Jadi kita harus merubah cara hidup kita, dan kita harus berubah, kita tidak boleh lagi keras kepala, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mudah, jika kita ingin benar-benar menerima keselamatan, dan kalau saudara tidak mau maka suatu saat nanti saat berjumpa dengan Tuhan, saudara akan membayar harganya, dan harganya adalah kebinasaan kekal.

Hal ini saya katakan sekarang, jadi kalau nantinya saudara menghadap Tuhan, saudara tidak bisa berkata tidak mengerti, karena belum pernah mendengarnya.

Kenapa saya katakan ini dengan keras?. Karena kita harus mengerti bahwa pada titik tertentu kalau kita sudah terikat dengan kebiasaan hidup dunia, maka di usia tertentu akan sangat sulit untuk kita berubah, sebab itu sudah mendaradaging dalam kehidupan kita.

Kenapa sulit diubah?. Karena keterikatan itu sudah mulai sejak masih kanak-kanak, dan hal itu akan berlangsung hingga dewasa, bahkan hingga kita sudah tua.

Memang semua keinginan kita itu menurut hukum tidak salah, tetapi persoalannya sekarang apakah itu adalah selera Tuhan, atau keinginan Tuhan, itu masalahnya. Oleh sebab itu saat ini kita harus mulai paksa diri untuk meninggalkan semuanya itu dan mau bertanya kepada Tuhan, “apa yang Engkau mau ya Tuhan supaya ku lakukan” ini merupakan proses penyangkalan diri.

Ini yang tidak pernah kita perhatikan, karena kita terbiasa hidup suka-suka sendiri dan merasa apa yang kita ingini, apa yang kita mau, adalah hak kita, dan orang lain tidak berhak atas hidup kita.

Oleh sebab itu kita harus pahami bahwa ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh hukum, namun hal itulah yang bisa membuat kita hidup tidak sesuai kehendak Allah. Dan itu yang harus kita waspadai. Kalau membunuh, merampok, mencuri, itu bisa dijangkau oleh hukum, tetapi bagaimana kalau membenci, kepahitan, dll.

Jadi orang percaya itu diajar bukan hanya melakukan apa yang bisa dijangkau oleh hukum, tetapi juga apa yang tidak dijangkau oleh hukum, yaitu keinginan Tuhan atau kehendak Tuhan.

Kalau bagi orang Yahudi Taurat itu adalah hukum bagi mereka, maka bagi orang percaya Tuhan adalah hukum kita, dan ingat Tuhan telah memberi fasilitasnya supaya kita belajar.

Persoalannya kalau irama hidup kita selama ini sudah terbiasa dengan menikmati kesenangan hidup, bagaimana kita bisa mengubahnya dengan gampang.

Contoh sederhana : Punya mobil butut, kemudian kalau merasa punya uang kita lalu berpikir ganti mobil baru. Hal ini rasanya tidak salah, karena uang itu milik kita jadi tidak ada yang bisa melarang. Persoalannya adalah apakah itu yang Tuhan kehendaki atau tidak, itu selera Tuhan atau tidak, itu keinginan Tuhan atau tidak. Sebab kalau kita lakukan itu Tuhan tidak berkenan maka akan menjadi salah.

Kalau sudah sampai di titik ini, maka perkembangannya, hidup menurut kehendak Allah adalah setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan, keputusan, perbuatan yang kita lakukan, semuanya itu harus sesuai dengan kehendak Allah. Saya katakan ini bukan berarti saya sudah sempurna, tetapi saya mau berjuang terus untuk merubah diri supaya suatu saat nanti bisa mencapai titik kesempurnaan seperti kehendak Bapa.

Mengerti akan kebenaran ini, seharusnya membuat kita mulai memperhatikan setiap gerak hidup kita, sikap kita, baik itu terhadap istri, suami, anak-anak, pembantu, bahkan orang-orang yang ada disekitar kita dimanapun kita berada, apakah sikap hidup kita itu sesuai dengan keinginan Tuhan atau tidak, memuliakan Tuhan atau tidak.

Bila yang kita temukan adalah, cara hidup kita masih jauh dari apa yang Tuhan kehendaki, maka kita harus bertobat mulai saat ini dari cara hidup kita yang salah, karena tidak ada proses keselamatan yang lain atau mekanisme yang lain yang akan membawa kita kepada keselamatan, selain melakukan kehendak Allah Bapa di sorga.

Yohanes 8:31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Tetap dalam firman artinya terus-menerus belajar firman, supaya kita bisa benar-benar menjadi murid Tuhan. Artinya kita benar-benar bisa menemukan Tuhan, mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya dan hidup melakukan kehendak-Nya.

Orang yang hidup saat ini hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di sorga, pada akhirnya akan menerima bagian yang tak dapa binasa, yaitu kemuliaan kekal di dalam Kerajaan Bapa di sorga. Kiranya kebenaran ini memberkati kita semua. Amin.

Baca Juga :

Proses Keselamatan Di Dalam Tuhan – Bagian 1

Artikel by Pdt.Franky Tutuhatunewa | Copyright © 2016 – Original Content | Renunganhariini.com

tags:

Related For PROSES KESELAMATAN DI DALAM TUHAN – Bagian 2